Halaman

Tampilkan postingan dengan label MAKALAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAKALAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA DALAM PEMBENTUKAN KATA


BAB I
PENDAHULUAN

1.  Latar Belakang

Dewasa ini, bahasa Indonesia  semakin diminati oleh orang-orang asing atau orang luar negeri. Hal ini dapat dilihat dengan banyak dibukanya lembaga-lembaga yang mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing baik di Indonesia maupun di luar negeri. Namun tidak dinafikkan adanya keaslaha-kesalahan yang terjadi dalam penggunaan bahasa tersebut.
Ada dua jenis kesalahan berbahasa yakni,  (1)  kesalahan terbuka dan (2) kesalahan tertutup. Kesalahan terbuka adalah kesalahan berbahasa pada tingkat ketatabahasaan yang terlihat dalam kalimat-kalimat yang dihasilkan pembelajar. Kesalahan tertutup merupakan kesalahan yang tersembunyi di balik kalimat yang tersusun secara benar menurut tata bahasa; secara benar menurut kaidah ketatabahasaan tetapi tidak benar dari sudut semantiknya. Lebih lanjut dikatakan  bahwa kesalahan-kesalahan terjadi karena adanya kesulitan dari pembelajar mempunyai arti yang penting bagi peneliti yaitu mereka dapat bukti tentang cara bahasa itu dipelajari terlebih dapat diketahui strategi atau metode yang tepat untuk pembelajarannya (Soenardji, 1989: 143-144).

2.  Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang  di atas, permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Pengertian Kesalahan Berbahasa ?
2.      Kesalahan Pembentukan Kata ?
3.      Kesalahan Pembentukan Dan Pemilihan Kata ?

3. Tujuan Penulisan

            Tujuan – tujuan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Menjelaskan Pengertian Kesalahan Berbahasa
2.      Menjelaskan Kesalahan Pembentukan Kata
3.      Menjelaskan Kesalahan Pembentukan Dan Pemilihan Kata


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kesalahan Berbahasa
Dalam bukunya yang berjudul “Common Error in Language Learning” H.V. George mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan (unwanted form) khususnya suatu bentuk tuturan yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan guru pengajaran bahasa. Bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan adalah bentuk-bentuk tuturan yang menyimpang dari kaidah bahasa baku. Hal ini sesuai dengan pendapat Albert Valdman yang mengatakan bahwa yang pertama-tama harus dipikirkan sebelum mengadakan pembahasan tentang berbagai pendekatan dan analisis kesalahan berbahasa adalah menetapkan standar penyimpangan atau kesalahan. Sebagian besar guru bahasa Indonesia menggunakan kriteria ragam bahasa baku sebagai standar penyimpangan.
Pengertian kesalahan berbahasa dibahas juga oleh S. Piet Corder dalam bukunya yang berjudul Introducing Applied Linguistics. Dikemukakan oleh Corder bahwa yang dimaksud dengan kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Pelanggaran ini bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga merupakan tanda kurang sempurnanya pengetahuan dan penguasaan terhadap kode. Si pembelajar bahasa belum menginternalisasikan kaidah bahasa (kedua) yang dipelajarinya. Dikatakan oleh Corder bahwa baik penutur asli maupun bukan penutur asli sama-sama mempunyai kemugkinan berbuat kesalahan berbahasa.
Berdasarkan berbagai pendapat tentang pengertian kesalahan berbahasa yang telah disebutkan di atas, dapatlah dikemukakan bahwa kesalahan berbahasa Indonesia adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan berbagai unit kebahasaan yang meliputi kata, kalimat, paragraf, yang menyimpang dari sistem kaidah bahasa Indonesia baku, serta pemakaian ejaan dan tanda baca yang menyimpang dari sistem ejaan dan tanda baca yang telah ditetapkan sebagaimana dinyatakan dalam buku Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Adapun sistem kaidah bahasa Indonesia yang digunakan sebagai standar acuan atau kriteria untuk menentukan suatu bentuk tuturan salah atau tidak adalah sistem kaidah bahasa baku. Kodifikasi kaidah bahasa baku dapat kita lihat dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Karakteristik bahasa baku antara lain adalah sebagai berikut.
1. Penggunaan konjungsi-konjungsi seperti bahwa, karena secara konsisten dan eksplisit.
  1. Penggunaan partikel kah dan pun secara konsisten.
    1. Penggunaan fungsi gramatikal secara eksplisit dan konsisten.
    2. Penggunaan meN- dan ber- secara konsisten.
    3. Penggunaan pola frase verbal aspek+agen+verba secara konsisten, misalnya Surat ini sudah saya baca. Bandingkan dengan bentuk yang sudah baku Surat ini saya sudah baca.
    4. Penggunaan konstruksi yang sintetis, misalnya mobilnya bandingkan dengan bentuk yang tidak baku dia punya mobil, membersiihkan bandingkan dengan bentuk tidak baku bikin bersih, memberi tahu bandingkan dengan bentuk tidak  baku kasih tahu.
    5. Terbatasnya jumlah unsur leksikal dan gramatikal dari dialek-dialek regional dan bahasa-bahasa daerah yang masih dianggap asing.
    6. Pengunaan popularitas tutur sapa yang konsisten, misalnya saya-tuan, saya-saudara.
    7. Pengunaan unsur-unsur leksikal yang baku, misalnya:
Leksikal baku Leksikal tidak baku
mengapa                                                           kenapa
begini                                                                gini
berkata                                                              bilang
tidak                                                                  nggak
tetapi                                                                 tapi
Senin                                                                 Senen
Rabu                                                                 Rebo
Kamis                                                               Kamis
Jumat                                                                Jum’at
Sabtu                                                                 Saptu
daripada                                                           ketimbang
senyampang                                                   mumpung
seperti                                                                 kayak
oleh karena itu                                                makanya
Kesalahan berbahasa tidak sama dengan kekeliruan berbahasa. Keduanya memang merupakan pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang menyimpang. Kesalahan berbahasa terjadi secara sistematis kerena belum dikuasainya sistem kaidah bahasa yang bersangkutan. Kekeliruan berbahasa tidak terjadi secara sistematis, bukan terjadi karena belum dikuasainya sistem kaidah bahasa yang bersangkutan, melainkan karena kegagalan merealisasikan sistem kaidah bahasa yang sebenarnya sudah dikuasai.
Kekeliruan pada umumnya disebabkan oleh faktor performansi. Keterbatasan dalam mengingat sesuatu atau kelupaan menyebabkan kekeliruan dalam melaflakan bunyi bahasa, kata, urutan kata, tekanan kata, atau kalimat, dsb. Kekeliruan ini bersifat acak, artinya dapat terjadi pada berbaga tataran linguistik. Kekeliruan biasanya dapat diperbaiki sendiri oleh siswa bila yang bersangkutan, lebih mawas diri, lebih sadar atau memusatkan perhatian. Siswa sebenarnya telah mengetahui sistem linguistik bahasa yang digunakan, tetapi karena suatu hal dia lupa akan sistem tersebut. Kelupaan itu biasanya tidak lama.
Sebaliknya, kesalahan disebabkan oleh faktor kompetensi, artinya siswa memang belum memahami sistem linguistik bahasa yang digunakannya. Kesalahan biasanya terjadi secara  konsisten dan sistematis. Kesalahan itu dapat berlangsung lama apabila tidak diperbaiki. Perbaikan biasanya dilakukan oleh guru, misalnya melalui remedial, latihan, praktik, dsb. Sering dikatakan bahwa kesalahan merupakan gambaran terhadap pemahaman siswa akan sistem bahasa yang sedang dipelajari olehnya. Bila tahap pemahaman siswa tentang sistem bahasa yang sedang dipelajari olehnya ternyata kurang, kesalahan berbahasa tentu sering terjadi. Namun, kesalahan berbahasa akan berkurang apabila tahap pemahaman semakin meningkat. Perhatikan tabel berikut ini!
KATEGORI
Sudut pandang
KESALAHAN
KEKELIRUAN
  1. Sumber
  2. Sifat
  3. Durasi
  4. Sistem Linguistik
  5. Hasil
  6. Perbaikan
KompetensiSistematis
Agak Lama
Belum Dikuasai
Penyimpangan
Dibantu oleh guru: latihan, pengajaran remedial
PerformansiTidak Sistematis
Sementara
Sudah Dikuasai
Penyimpangan
Siswa Sendiri
Pemusatan Perhatian

2.2. Kesalahan Pembentukan Kata
A.    Kesalahan Bentukan.
Faktor afiksasi memegang peranan penting dalam pemakaian bahasa Indonesia, khususnya dalam segi pembentukan kata. Menurut posisinya, afiks atau imbuhan bahasa Indonesia terbagi atas tiga jenis imbuhan, jenis awalan, akhiran, dan sisipan. Di antara ketiga jenis imbuhan, jenis yang disebut terakhir tidak begitu produktif dalam peristiwa pembentukan kata. Karena itu, kesalahan pemakaian jenis imbuhan tersebut tidak begitu banyak dilakukan para pemakai bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan kedua jenis imbuhan lainnya.
            Dalam kata bentuk-bentuk awalan menduduki posisi awal kata. Awalan yang tinggi frekuensi pemakaiannya yaitu: awalan meng-, ber-, pe-, ber-, di-, ke-, ter-, dan se-. Di antara awalan itu di samping ada yang memiliki bentuk yang tetap, terdapat pula yang mengalami bentuk perubahan bunyi. Hal itu tidak menutup kemungkinan para pemakai bahasa Indonesia dalam melakukan kesalahan mengucapkan bentuk-bentuk tersebut. Kesalahan lainnya dapat terjadi dalam segi fungsi awalan itu, baik dalam segi gramatikalnya maupun semantisnya. Kesalahan-kesalahan dalam pemakaian awalan akan kita analisis pada bagian pertama modul.

B.     Kesalahan Bidang Imbuhan.
            Akhiran merupakan jenis imbuhan atau afiks yang menduduki posisi akhir kata bentukan. Ada tiga macam akhiran bentukan utama bahasa Indonesia, yaitu akhiran an, kan, dan i. Dalam peristiwa pembentukan kata ketiga akhiran itu tidak mengalami perubahan bentuk. Contoh: makan+_an manjadi makanan, lari+ kan menjadi larikan garam+ i menjadi garami.
Alaupun demikian, terdapat keistimewaan pada peristiwa pembentukan kata dengan –i. Hal ini –i tidak pernah menghasilkan kata bentukan dari kata dasar yang terakhir dengan fonem i, misalnya kata dasar lari, mati, suci, padi tidak dapat dibentuk menjadi larii, matii, suci dan sebagainya.
            Dalam prakteknya sering terjadi penyimpangan pemakaian akhiran baik dalam segi bentuk ataupun fungsinya. Ditinjau dari segi bentuk kata, pemakaian akhiran i pada contoh kalimat-kalimt (1) dari sistem akhiran i bahasa Indonesia. Dalam hal ini, kata dasar kursi berakhir dengan /i/ sehingga tidak mungkin dibentuk lagi dengan akhiran i. Tetapi, dilihat dari fungsinya i pada kedua bentukan itu berfungsi gramatik; yaitu membentuk kata kerja transitif. Begitu pula, akhiran tersebut berfungsi semantik, yaitu mengandung makna “memberikan“ atau “membubuhkan”. Cara lain untuk mengemukakan maksud atau gagasan yang terkandung dalam bentuk tersebut yaitu pembentukan kata dengan menggunakan akhiran in seperti terlihat pada contoh kalimat di bawahnya.

C.    Kesalahan Berbahasa dalam Penggabungan Imbuhan.
            Dalam peristiwa pembentukan kata sering terjadi peristiwa penggabungan imbuhan, baik antara awalan dengan awalan ataupun antara awalan dengan akhiran. Dalam hal ini terdapat dua macam penggabungan, yaitu penggabung yang dilakukan secara serempak dan penggabungan yang dilakukan secara bertahap. Hal yang pertama, misalnya terjadi pada kata kekuatan, perdebatan, pemukulan. Dalam  hal ini ke-an, per-an dan peN-an secara serempak membentuk ketiga kata bentukan di atas dengan menggunakan kata dasar kuat, debat dan pukul. Karena kedua macam imbuhan itu masing-masing tidak berdiri sendiri, maka makna yang dikandungnya pun merupakan satu kesatuan. Imbuhan seperti itu disebut dengan istilah konfiks. Lain halnya dengan me-kan, per-kan, memper-kan. Misalnya pada kata menggunakan, pergunakan, mempergunakan. Dalam hal ini akhiran kan lebih dahulu berfungsi pada kata bentukan itu daripada me-, per-, memper-. Bentukan imbuhan seperti ini tidak sama fungsinya dengan konfiks, untuk itu, perhatikan proses bentukan kata-kata di atas.
( 1 )  ke-an + kuat         = kekuatan
per-an+ debat      = perdebatan
peng-an + pukul  = pemukulan
( 2 )  guna + kan = gunakan, me+ gunakan  = menggunakan
guna= – kan = gunakan, per-+gunakan = pergunakan

2.3 Kesalahan Pembentukan Dan Pemilihan Kata
Pada bagian berikut akan diperhatikan kesalahan kasalahan penbentukan kata, baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis.
a.      Penganggalan Awalan Me-
Penganggalan pada judul cerita dalam surat kabar diperbolehkan. Namun, dalam teks beritanya awalan me- harus eksplisit. Dibawah ini diperhatikan bentuk yang salah dan bentuk yang benar.
Contoh:
a) Amerika serikat luncurkan pesawat bolak-balik Colombia (salah)
b) Amerika serikat meluncurkan pesawat bolak-balik Colombia (benar)
b.      Penagnggalan Awalan Ber-
1.      Kata-kata yang berawalan Ber- sering mengandalkan awalan Ber. Padahal awalan Ber harus dieksplisitkan secara jelas. Berikut ini contoh salah dan benar dalam pemakaian.
Contoh:
1. a) Sampai jumpa lagi (salah)
1. b) Sampai berjumpa lagi (benar)
c.       Peluluhan Bunyi /c/
Kata dasar yang diawali bunyi c sering menjadi luluh apabila mendapat awalan me. Padahal tidak seperti itu.
Contoh:
1. a) Ali sedang menyuci mobil (salah)
1.      b) ali sedang mencuci mobil (benar)
d.      Penyengauan Kata Dasar
Ada gejala penyengauan bunyi awal kata dasar, penggunaan kata dasar ini sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Akhirnya pencampuran antara ragam lisan dan ragam tulis menimbulkan suatu bentuk kata yang salah dalam pemakaian.
Contoh:
Nyopet, mandang, nulis, dan nambrak. Dalam bahasa Indonesia kita harus menggunakan kata-kata mencopet,memandang, menulis, dan menembrak.
e.       Bunyi /s/, /k/, p/, dan /t/ yang Tidak Luluh
Kata dasar yang bunyi awalnya s, k, p, atau t sering tidak luluh jika mendapat awalan me atau pe. Padahal menurut kaidah buku bunyi-bunyi itu harus lebur menjadi bunyi sengau.
Contoh:
1. a) Semua warga neraga harus mentaati peraturan yang berlaku (salah)
1. b) Semua warga neraga harus menaati peraturan yang berlaku (benar)

f.       Awalan Ke- yang Kelirugunaan
      Pada kenyataan sehari-hari, kata-kata yang seharusnya berawalan ter sering diberi awalan ke. Hal itu disebabkan oleh kekurang cermatan dalam memilih awalan yang tepat.
Contoh:
1. a) Pengendara mator itu meninggal karena ketambrak oleh kereta api (salah)
1. b) pengendara motor itu meninggal karena tertambrak oleh kereta api (benar)
Perlu tiketahui bahwa awalan ke hanya dapat menempel pada kata bilangan. Selain di depan kata bilangan, awalan ke tidak dapat dipakai kecuali pada kata kekasih, kehendak, dan ketua.

g.      Pemakaian Akhiran –ir
      Pemakaian kata akhiran –ir sangat produktif dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Padahal, dalam bahasa Indonesia baku untuk akhiran –ir adalah asi atau isasi.
Contoh:
1. a) Saya sanggup mengkoordinir kegiatan itu (salah)
1. b) Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan itu (benar)
h.      Padanan yang Tidak Serasi
      Terjadi ketika pemakaian bahasa yang kurang cermat memilih padanan yang serasi, yang muncul dalam kehitupan sehari-hari adalah padanan yang tidak sepadan atau yang tidak serasi. Hal itu, terjadi karena dua kaidah yang berselang, atau yang bergabung dalam sebuah kalimat.
Contoh:
1. a) karena modal dibank dibank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (salah)
1. b) karena modal dibank terbatas, tidak semua pengusah lemah memperoleh kredit (benar)
1. c) modal dibank terbatas sehingga, tidak semua pengusah lemah memperoleh kredit (benar)
Bentuk-bentuk diatas adalah bentuk yang menggabungkan kata karena dan sehingga, kata apabila dan maka, dan kata walaupun dan tetapi.
i.        Pemakaia Kata Depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan terhadap
      Dalam pemakaian sehari-hari, pemakaian kata di, ke, dari, bagi, dan daripada sering dipertukarkan.
Contoh:
1.a) putusan dari pada pemerintah itu melegakan hati rakyat. (salah)
2.a) putusan pemerintah itu melegakan hati rakyat. (benar)

j.        Pemakaian Akronim (singkatan)
      Yang dimaksud kata singkatan adalah PLO, UI, dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud dengan bentuk singkat ialah lab (laboratorium), memo (memeorandum) dan lain-lain. Pemakaian akronim dan singkatan dalam bahasa Indonesia kadang-kadang tidak teratur.
k.Penggunaan Kesimpulan, Keputusan, Penalaran, dan Pemungkinan
Kata-kata kesimpulan bersaing pemakaiannya dengan kata simpulan; kata keputusan bersaing pemakaiannya dengan kata purusan; kata pemukiman bersaing dengan kata permukiman; kata penalaran bersaing dengan kata pernalaran.
Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya mengikuti pola yang rapi dan konsisten. Kalau kita perhaikan dengan saksama, bentukan kata itu memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain.
Contoh:
Tulis, menulis, penulis, penulisan, tulisan.\
Pilih, memilih, pemilih, pemilihan, pilihan
Ada lagi pembentukan kata yang mengikuti pola berikut
Contoh:
Tani, bertani, petani, pertanian
Mukim, bermukim, pemukim, permukiman
l.Penggunaan Kata yang Hemat
Salah satu ciri pemakaian bahasa yang efektif adalah kpemakaian bahasa yang hemat kata, tetapi padat isi. Namun dalam komunikasi sehari-hari sering kita jumpai pemakaian kata yang tidak hemat (boros)
Contoh:
Boros hemat
Sejak sejak atau dari
Agar supaya agar atau supaya
Mempunyai pendirian berpendirian
Perbandingan kata yang hemat dan kata boros
1.a) Apabila suatu reservoir masih mempunyai cadangan minyak, maka diperlakukan tenaga dorong buatan untuk memproduksi minyak lebih besar (boros, salah).
1.b) Apabila suatu reservoir masihmempunyai cadangan minyak, diperlukan tenga dorong buatan untuk memproduksi munyak lebih besar. (salah).
1.c) Untuk mengksplorasi dan mengeksploitas munyak dan gas bumi di mana sebagai sumber devisa negaa diperlukan tenaga ahli yang terampil di bidang geologi dan perminyakan. (benar)
m.Analogi
Di dalam dunia olahraga tertapat istilah petinju. Kata petinju berkorelasi dengan kata bertinju berarti ‘orang yang (biasa) bertinju’, bukan ‘orang yang (biasa ) meninju’.
Dewasa ini dapat dijumpai banyak kata yang sekelompok dengan petinju, seperti pesilat, petenis, pesenam dan lain-lain. Jika dilakukan demikian, akan teecipta bentukan seperti berikut ini
Petinju ‘orang yang bertinju’
Pesilat ‘orang yang bersilat’
Petenis ‘orang yang bertenis’
Pesenam ‘orang yang bersenam’
n.Bentuk Jamak dalam Bahasa Indonesia
Dalam pemakaian sehari-hari kadang-kadang orang salah menggunakan bentuk jamak bahsa Indonesia sehingga terjadi bentuk yang rancu atau kacau. Bentuk jamak dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1)Bentuk jamak dengan melakukan pengulangan kata yang bersangkutan seperti
Kuda-kuda
Meja-meja
Buku-buku
2)Bentuk jamak dengan menambah kata bilangan seperti
Beberapa meja
Sekalian tamu
Semua buku
Dua tempat
Sepuluh computer
3)Bentuk jamak dengan menmbahkan kata Bantu jamak seperti
Para tamu
4)Bentuk jamak dengan menggunakn kata ganti orang seperti
Mereka kita
Kami kalian

 BAB III
PENUTUP
a.      Simpulan
kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan  khususnya suatu bentuk tuturan yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan guru pengajaran bahasa. Bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan adalah bentuk-bentuk tuturan yang menyimpang dari kaidah bahasa baku.
Faktor afiksasi memegang peranan penting dalam pemakaian bahasa Indonesia, khususnya dalam segi pembentukan kata. Menurut posisinya, afiks atau imbuhan bahasa Indonesia terbagi atas tiga jenis imbuhan, jenis awalan, akhiran, dan sisipan.

b.      Saran
Dengan penulisan karya ilmiah ini, penulis menyarankan bahwa dalam penggunaan sebuah bahasa penting adanya karena kita sebagai mahkluk sosial tidak liput dari sebuah interaksi yang tentunya tak terlepas dari bahasa. Oleh sebab itu pentingnya penggunaan bahasa yang baik dan benar harus diketahui. Tak lupa pula penulis menyarankan kepada khalayak pembaca agar kiranya mampu melakukan kritikan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah yang selanjutnya.

 DAFTAR PUSTAKA
·         http://7assalam9.wordpress.com/kesalahan-pembentukan-dan-pemilihan-kata/
·         http://bacpjj.unismuh.ac.id/new/?p=61
·         Wojowasito, 1977, Pengajaran Bahasa Kedua (Bahasa Asing, Bukan Bahasa  Ibu), Bandung: Shinta Dharma



Rabu, 13 Juni 2012

EJAAN KATA DALAM ANALISIS
KESALAHAN BERBAHASA



DISUSUN OLEH :

IRWAN FADLI



SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
YAYASAN PERGURUAN ISLAM MAROS (YAPIM)
TAHUN AKADEMIK 2011/2012


KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas berkat dan rahmatnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang bertemakan  “ejaan kata” dan tidak lupa pula kita kirimkan salam dan taslim kepada junjungan nabi kita Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap ke alam yang terang.
Adapun makalah ini penulis buat dengan pemikiran agar makalah ini dapat bermanfaat  baik bagi dosen maupun mahasiswa yang membacanya. Penulis sadari bahwa masih banyak kekurangan – kekurangan yang belum kami ketahui tentang pembuatan makalah, maka dari itu bagi si pembaca kami sangat harapkan masukan – masukan dalam pembuatan makalah ini agar kami dapat menyempurnakan makalah yang akan kami buat selanjutnya.
Akhirnya, kepada Allah SWT jugalah kita kembalikan semuanya semoga apa yang kami kerjakan dapat bernilai ibadah disisi-Nya. Amin.



DAFTAR ISI

SAMPUL...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB I Pendahuluan..................................................................................... 1
A.    Latar Belakang Masalah....................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................. 1
C.    Tujuan Penulisan.......................................................................... ......... 1
D.    Manfaat Penulisan........................................................................ ......... 2

BAB II Pembahasan.................................................................................... 3
A.    Menjelaskan Pengertian Ejaan............................................................. 3
B.     Menjelaskan Pemakaian Huruf.................................................. ......... 5
C.    Menjelaskan Penulisan Kata....................................................... ......... 10

BAB III Penutup.......................................................................................... 15
A.    Simpulan................................................................................................. 15
B.     Saran....................................................................................................... 15
            Daftar Pustaka  .............................................................................................16                 


  BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang
            Bahasa merupakan suatu alat yang paling utama untuk berkomunikasi antar manusia. Dengan kata lain, manusia akan sangat tergantung sekali pada suatu bahasa dan mengingat juga bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup tanpa orang lain. Dalam hal ini tentulah antar manusia akan terjadi suatu interaksi (komunikasi) untuk berbagai tujuan.
Bahasa yang digunakan oleh manusia bukanlah bahasa yang statis, tetapi bahasa yang selalu berkembang sesuai kebutuhan manusia sebagai penggunanya. Berbagai fenomena yang muncul di dalam kehidupan praktis akan berpengaruh besar terhadap suatu bahasa. Sering kali kaidah-kaidah bahasa yang disepakati mengalami stagnasi menghadapi fenomena penggunaan bahasa pada tataran praktis. Sehingga dalam penggunaan behasa tersebut haruslah memperhatikan ejaan bahasa.

I.2 Rumusan Masalah
            Dalam penulisan makalah ini, rumusan masalah yang hendak di capai yaitu :
1.      Menjelaskan pengertian ejaan?
2.      Menjelaskan pemakaian huruf?
3.      Menjelaskan penulisan kata?

I.3 Tujuan Penulisan
            Dalam penulisan makalah ini, tujuan penulisan yang hendak di capai :
1.      Dapat mengetahui pengertian ejaan.
2.      Dapat memahami pemakaian huruf dengan baik dan benar.
3.      Dapat memahami penulisan kata dengan baik.

I.4 Manfaat Penulisan
1.      Sebagai bahan referensi untuk pengkajian dan penulisan karya ilmiah yang sejalan dengan pembahasan isi makalah ini.
2.      Dengan ditulisnya makalah ini, kita dapat memahami tentang pengertian ejaan suatu bahasa dan mengetahui bentuk pemakaian serta penulisan kata dengan baik dan benar.
BAB II
PEMBAHASAN

II.I Ejaan
Yang dimaksud dengan ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangakan bunyi ujara dan bagaimana antar hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, yang dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca. Pada tahun 1901 ditetapkan bahasa melayu dengan hurup Latin, yang disebut Ejaan van OPhuijsen. Hal yang menonjol dalam ejaan van Ophuijsen adalah sebagai berikut :
a)      Huruf j dipakai untuk menulis kata-kata jang, Pajah, sajang.
b)      Huruf oe dipakai untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
c)      Tanda diakritik, seperti koma, ain dan tanda trema, dipakai untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamai’.
Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 maret 1947 Ejaan Soewandi diresmikan untuk menggantikan Ejaan van Ophuijsen. Hal-hal yang perlu diketahui sehubung dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut :
a)      Huruf eo diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
b)      Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
c)      Kata ulang boleh ditulis dengan angka-2, seperti anak2, berjalan, kebarat2-an.
d)     Awlan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamarkan dengan imbuhan di-pada ditulis, dikarang.
Ejaan Melindo
Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia).
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan pada tanggal 16 agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57 Tahun 1972. Surat putusan tanggal 12 oktober 1972, No.156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Dan surat putusannya No.0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543/U/1987, tanggal 9 september 1987. Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubung dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan adalah sebagai berikut :
1)      Perubahan huruf
Ejaan Soewandi Ejaan yang Disempurnakan dj djalan, djauh j jalan, jauh j palung, laju y paying, layu nj njonja, bunji ny nyonya, bunyi.
2)      Huruf-huruf dibawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsure pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya. f maaf, fakir v valuta, universitas z zeni, lejat.
3)      Huruf-huruf q dan x yang lajim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai.
a : b = p : q Sinar-X.
4)      Penulisan di-atau ke sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di-atau ke-sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan yang megikutinya.
di- (awalan) di (kata depan) ditulis di kampus dibakar di rumah dilempar di jalan dipikirkan di sini ketua ke kampus kekasih ke luar negeri kehendak ke atas.
5)      Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.
anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat. Ejaan ini berbicara tentang (1) pemakaian huruf, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsure-unsur serapan, dan (5) pemakaian tanda baca.
II.2 Pemakaian Huruf
1.      Nama-nama huruf
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa indonesia terdiri atas huruf-huruf yang berikut :
Nama tiap-tiap huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf nama huruf nama
A a a N n en
B b be – bukan bi O o o
C c ce – bukan se P p pe
D d de Q q ki bukan kyu
E e e R r er
F f ef S s es
G g ge bukan ji T t te bukan ti
H h ha U u u
I i i V v fe - bukan fi
J j je W w we
K k ka X x eks – bukan ek
L l el Y y ye – bukan ey
M m em Z z zet
Disamping itu, dalam bahasa Indonesia terdapat pula diftong, yang bisa dieja au, ai, dan oi yang dilafalkan sebagai vocal yang diikuti oleh bunyi konsonan luncuran w atau y. terdapat juga konsonan yang terdiri atas gabungan huruf, seperti kh, ng, ny, dan sy. Dalam hal-hal khusus terdapat juga gabungan huruf nk, misalnya dalam bank dan sanksi, sedangkan pemakaian gabungan huruf dl, dh, gh, dz, th, dan ts, seperti dalam kata hadlir, dharma, maghrib, adzan, bathin, dan hatsil tidak digunakan dalam bahasa Indonesia.
2.      Lafal singkatan dan kata
Semua singkatan atau kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia termasuk singkatan yang berasal dari bahasa asing harus dilafalkan secara lafal Indonesia.
Singkatan/Kata Lafal Tidak Baku Lafal Baku
AC [a se] [a ce]
BBC [be be se], [bi bi si] [be be ce]
LNG [el en je] [el en ge]
3.      Persukuan
Persekutuan ini diperlukan, terutama pada saat kita harus mengenal sebuah kata dalam tulisan jika terjadi pergantian baris, Apabila memenggal atau menyekutukan sebuah kata, kita harus membutuhkan tanda hubung (-) di antara suku-suku kata itu tanpa jarak/spasi. Pada pergantian baris, tanda hubung harus dibubuhkan di pinggir ujung baris. Jadi, tanda hubung yang dibubuhkan di bawah ujung baris adalah hal yang keliru. Perlu juga diketahui bahwa suku kata atau imbuhan yang terdiri atas sebuah huruf tidak dipenggal agar tidak terdapat satu huruf pada ujung baris atau pada pangkal baris. Di samping itu, perlu pula diketahui bahwa sebuah persekutuan ditandai oleh sebuah vocal.
a.       Beberapa kaidah persekutuan yang perlu kita perhatikan dengan cermat adalah sebagai berikut :
Penyukuan Dua Vokal yang Berurutan di Tengah Kata
Kalau ditengah kata ada dua vocal yang berurutan, pemisahan tersebut dilakukan di antara kedua vocal itu.
Misalnya :
Kata Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku
·         Lain la – in la – in
·         Saat sa – at sa – at
·         Kait kai – t ka – it
b.      Penyukuan Dua Vokal Mengapit Konsonan di Tengah Kata kalu di tengah kata ada konsonan di antara dua vocal, pemisahan tersebut dilakukan sebelum konsonan itu. Kata Bentuk tidak Baku Bentuk Baku
·         seret ser – et se – ret
·         masam mas – am ma – sam
·         sepatu sep – atu se – patu
selain itu, karena ng, ny, sy, dank h melambangkan satu konsonan, gabungan huruf itu tidak pernah diceraikan sehingga pemisahan suku kata terdapat sebelum atau sesudah pasangan huruf itu.
Misalnya :
Kata Bentuk tidak Baku Bentuk Baku
·         Langit lan - git la – ngit
·         Masyarakat mas – yarakat ma – syarakat
·         Mutakhir mutak – hir muta – khir
c.       Penyukuan Dua Konsonan Berurutan di Tengah Kata
 kalau di tengah kata ada dua konsonan yang berurutan, pemisahan tersebut terdapat di antara kedua konsonan itu.
Misalnya :
Kata Bentuk tidak Baku Bentuk Baku
·         Maksud ma - ksud mak – sud
·         Langsung langs – ung lang – sung
·         Caplok ca – plok cap – lok
d.      Penyukuan Tiga Konsonan atau Lebih di Tengah Kata
Kalau di tengah kata ada tiga konsonan atau lebih, pemisahan tersebut dilakukan di antaranya konsonan yang pertama (termasuk ng, ny, sy, dan kh).
Misalnya :
Kata Bentuk tidak Baku Bentuk Baku
·         Abstrak abs – trak ab – strak
·         Konstruksi kons – truksi kon – stuksi
·         Instansi ins – tansi in – stansi
Akan tetapi, untuk kat-kata yang bersal dari dua unsur yang masing-masing mempunyai arti, cara penyukuannya melalui dua tahap. Pertama, kata tersebut dipisahkan unsur- usnsurnya. Kedua, unsurnya yang telah dipisahkan itu dipenggal suku-suku katanya.
Misalnya :
Kilogram - kilo gram – ki-lo-gram
Telegram - tele gram – te-le-gram
Biologi - bio logi – bi-o-lo-gi
e.       Penyukuan Kata Yang Berimbuhan dan Berpartikel
Imbuhan (awalan dan akhiran), termasuk yang mengalami perubahan bentuk, dan partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dalam penyukuan kata dipisahkan sebagai kesatuan.
Misalnya :
Kata Bentuk tidak Baku Bentuk Baku
·         Santapan santa – pan santap – an
·         Mengail meng – ail me – ngail (kt. Dasar kail)
·         Mengakui me – ngakui meng – akui (kt. Dasar aku)
f.       Penyukuan Nama Orang
Yang dibolehkan adalah memisahkan nama orang itu atas unsure nama pertama dan unsur nama kedua dan seterusnya.
Misalnya :
Nama pemisahan yang salah pemisahan yang benar
Yuyun Nailufar Yuyun Nai-lufar Yuyun Nailufar
Isa Ansori Isa An-sori Isa Ansori
II.3 Penulisan Kata
Kata dasar ditulis sebagai satu satuan yang berdiri sendiri, sedangkan pada kata turunan, imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) dituliskan serangkai dengan kata dasarnya. Kalau gabungan kata hanya mendapat awalan atau akhiran, awalan atau akhiran itu dituliskan serangkai dengan kata yang bersangkutan saja.
Misalnya:
Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku
di didik dididik
di suruh disuruh
di lebur dilebur
a)      kalau gabungan kata sekaligus mendapat awalan dan akhiran, bentuk kata turunannya itu harus dituliskan serangkai.
Misalnya :
Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku
Menghancur leburkan menghancurleburkan
Pemberi tahuan pemberitahuan
Mempertanggung jawabkan mempertanggungjawabkan
b)      kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Kata ulang ,tidak hanya berupa pengulangan kata dasar dan sebagian lagi kata turunan,mungkin pula pengulanagn kata itu sekaligus mendapat awalan dan akhiran. Kemungkinan yang lain, salah satu bagiannya adalah bentuk yang dianggap berasal dari kata dasar yang sama dengan ubahan bunyi. Mungkin pula bagian itu sudah agak jauh berbeda dari bentuk dasar (bentuk asal). Namun, apabila ditinjau dari maknanya, keseluruhan itu menyatakan perulangan.
Misalnya :
Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku
jalan2 jalan-jalan
di-besar2-kan dibesar-besarkan
me-nulis menulis-nulis
c)      Gabungan kata termasuk yang lazim disebut kata majemuk bagian-bagiannya dituliskan terpisah.
Misalnya :
Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku
dayaserap daya serap
tatabahasa tata bahasa
kerjasama kerja sama
gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata dituliskan serangkai. Misalnya :
Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku
Mana kala manakala
Sekali gus sekaligus
Bila mana bilamana
Selain itu, kalau salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sebagai satu kata yang mengandung arti penuh, hanya muncul dalam kombinasi,unsur itu harus dituliska serangkai dengan unsur lainnya.
Misalnya :
Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku
a moral amora
antar warga antarwarga
catur tunggal caturtunggal
d)     Kata ganti ku dan kau – yang ada pertaliannya dengan aku dan engkau – ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; kata ganti ku, mu, dan nya – yang ada pertaliannya dengan aku, kamu, dan dia – ditulis serangkai dengan yang mendahuluinya. Misalnya :
·         Pikiranmu dan kata-katamu berguna untuk memajukan negeri ini.
·         Kalau mau, boleh kauambil buku itu.
·         Penemuannya dalam bidang mikrobiologi sangat mengejutkan dunia ilmu dan tekhnologi.
e)      Kata depan, di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali jika berupa gabungan kata yangsudah dianggap padu benar, sepeti kepada dan daripada. Misalnya :
·         Saya pergi kebeberapa daerah untuk mencarinya, tetapi belum berhasil.
·         Ketika truk Belanda sudah bergerak ke timur, gerilyawan yang bersembunyi di bawah kaki bukit lari kea rah Barat.
f)       Partikel pun dipisahkan dari kata yang mendahuluinya karena pun sudah hamper seperti kata lepas.
Misalnya :
·         Ia sudah sering ke desa ini, tetapi sekali pun ia tidak pernah singgah ke rumah saya.
·         Jika saya pergi, dia pun ingin pergi.
·         Dengan devaluasi pun ekonomi Indonesia belum tertolong.
Akan tetapi, kelompok kata yang berikut, yang sudah dianggap padu benar, ditulis serangkai. Jumlah kata seperti itu terbatas, hanya ada dua belas kata, yaitu adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun (yang berarti walaupun), sungguhpun, dan walaupun.
Misalnya :
o   Meskipun ia sering kejakarta, satu kali pun ia belum pernah ke Taman Mini Indonesia Indah.
o   Bagaimanapun sulitnya, saya harus menempuh ujian sekali lagi.
o   Walaupun tidak mempunyai uang, ia tetap gembira.
g)      Partikel per yang berarti ‘mulia’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian-bagian kalimat yang mendampinginya. Misalnya :
·         Harga kain itu Rp.10.000,00 per meter.
·         Saya diangkat menjadi pegawai negeri per Oktober 1974.
·         Semua orang yang diduga mengetahui peristiwa itu dipanggil satu per satu.
h)      Angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan atau nomor. Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, dan isi, (b) satuan waktu, dan (c) nilai uang. Selain itu, angka lazim juga dipakai untuk menandai nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat dan dugunakan juga untuk menomori karanagn atau bagian-bagianya. Misalnya :
Hotel Sahid Jaya, Kamar 125 5 cm
Bab XV, Pasal 26 10 kg
Surah Ali Imran, Ayat 12 15 jam
i)        Penulisan lambing bilangan dengan huruf dilakukan sebgai berikut.
·         Dua ratus tiga puluh lima (235)
·         Seratus empat puluh delapan (148)
·         Tiga dua pertiga ( 3 2/3)
j)        Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan dengan tiga cara yang berikut.
·         Abad XX ini dikenal juga sebagai abad tekhnologi.
·         Abad ke-20 ini dikenal juga sebagai abad tekhnologi.
·         Abad kedua puluh ini dikenal juga sebagai abad tekhnologi.
k)      Penulisan kata bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yabf berikut.
·         Sulatan Trakdir Alisyahbana adalah pujangga tahun 30-an.
·         Bolehkah saya menukar uang dengan lembaran 1.000-an?
·         Angkatan Balai Pustaka sering disebut Angkatan Tahun 20-an.







BAB III
PENUTUP

III.I Simpulan
Bahasa merupakan suatu alat yang paling utama untuk berkomunikasi antar manusia. Dengan kata lain, manusia akan sangat tergantung sekali pada suatu bahasa dan mengingat juga bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup tanpa orang lain. Dalam hal ini tentulah antar manusia akan terjadi suatu interaksi (komunikasi) untuk berbagai tujuan. Bahasa yang digunakan oleh manusia bukanlah bahasa yang statis, tetapi bahasa yang selalu berkembang sesuai kebutuhan manusia sebagai penggunanya. Sehingga penggunaan ejaan dalam melakukan sebuah interaksi sangatlah penting terutama dalam kehidupan kita sehari-hari.

III.2 Saran
Dengan penulisan karya ilmiah ini, penulis menyarankan bahwa dalam penggunaan sebuah bahasa penting adanya karena kita sebagai mahkluk sosial tidak liput dari sebuah interaksi. Dan dengan penalalaraan ejaan yang telah penulis paparkan, kita mampu mengidentifikasi sebuah penggunaan ejaan berikut dengan huruf dan kata yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

http ://www.bahasaindonesia.com